SUNYI DALAM PERTEMANAN

Oleh : IBRENA AMANDAYUNNA BRAHMANA (Ibrena)
(Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta)
Aku dan Adel adalah dua orang yang berbeda dalam hampir segala hal. Adel suka mengatur, sementara aku lebih nyaman mengikuti arus. Adel gemar berbicara, dan aku memilih menjadi pendengar. Perbedaan itu seharusnya saling melengkapi, akan tetapi dalam pertemanan kami, ia justru menjadi sumber konflik yang tak pernah benar-benar usai.
Kami berteman sejak kecil, waktu membuat kami semakin dekat, tetapi juga memperjelas ketimpangan yang selalu ada. Adel kerap berbuat salah kepadaku, kata-katanya tajam, sikapnya kerap menyudutkan. Namun, entah kenapa, aku selalu menjadi orang yang lebih dulu meminta maaf. Aku mencoba memahami, mencoba bertahan, karena bagiku Adel adalah teman yang berharga, dan kehilangan dia terasa seperti kehilangan sebagian masa kecilku sendiri.
Masalahnya Adel tak pernah merasa perlu minta maaf. Baginya, aku selalu berada pada posisi yang salah. Setiap kali aku memilih diam agar pertengkaran tak semakin besar, Adel justru memarahiku. Diamku dianggap sebagai kesalahan baru. Perlahan, aku merasa tersingkir. Ada tapi tak pernah benar-benar dihargai.
Aku mulai merasa bahwa pertemanan kami hanya berjalan satu arah, aku yang selalu memberi, Aku selalu mengalah, aku yang tidak ingin memperburuk keadaan, tetapi aku juga lelah terus-menerus menjadi orang yang harus selalu mengerti. Setiap kali aku meminta maaf, Adel selalu mendiamkanku, lalu suatu saat muncul lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa, meminta perhatian, meminta kasih sayang. Tanpa pernah menoleh pada lukaku.
Aku terjebak dalam lingkaran yang sama, lingkaran maaf, diam, marah, dan kecewa.
Hingga suatu hari, aku tidak bisa menahan lagi dan memutuskan untuk melapor ke guru tentang perilaku Adel. Tapi, Adel malah semakin marah dengan aku dan menjauhi aku.
Aku merasa sakit hati, tapi aku tetap berusaha meminta maaf, berharap bahwa Adel bisa memahamiku.
"Aku minta maaf, Adel. Aku tidak ingin membuat kamu marah," kataku pelan.
Adel tidak menjawab. Dia hanya mengabaikanku dan terus menjauh, seakan aku tak pernah ada.
Saat itu aku merasa benar-benar tersingkir. tetapi dibalik rasa sakit itu, aku tahu satu hal,
aku tahu bahwa aku telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pertemanan kami.
Bahkan ketika aku harus mengorbankan diriku sendiri.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Link SPMB SD Fransiskus III Jakarta TP 2026/2027 : https://bit.ly/SPMB_SDFR3
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
"GELANG YANG TAK PERNAH PUTUS"
Oleh:SYALOMITA EVANGELIS RONATIO PASARIBU (Syalom) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Etta dan Eva bersahabat sejak kecil, sejak kedua kakak laki-laki mereka dud
“Hanya Teman, Tapi Kehilangan”
Oleh:NAOMI OLIVEIRA ULIBASA TOBING (Naomi) (Siswi Kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Rara dan Dino selalu berkata bahwa mereka hanya teman. Dan memang begitulah a
"Pensil Ajaib Ronal"
Oleh :GEOTENO ELIEZER SALOUW (Geo) (siswa Kelas 6 SD St. Fransiskus III Jakarta) Ronal adalah siswa kelas 6 SD yang rajin belajar, tapi sering merasa kurang percaya diri, te
ORANG YANG TEPAT, WAKTU YANG BERKHIANAT
Oleh: NOVA MARIA KRISTINA (Nova) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Pagi itu cerah, secerah wajah murid-murid SD Fransiskus III yang kembali memenuhi halaman sekolah.
Masihkah Kita Bersahabat?
By : BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III) Gita dan Tifa adalah dua sahabat yang telah tumbuh bersama sejak taman kanak-kanak. Bert
Surat Tua Untuk Ibu Nirmala
Ilustrasi by Gemini AI Oleh: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, sep
SENYUM DIBALIK PAPAN TULIS
By : CATHERINE AZELIA NAPITU (Catherine) Murid Kelas VI SD Santo Fransiskus III Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta. Sinar matahari memantul pada deretan gedung-gedu
Bunga Yang Tercabut Paksa
By:JADINE GRACIELA CONG (Jadine) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Ia yatim piatu sejak kecil, Sediri di dunia yang terasa begitu
“Jejak Persahabatan Andi dan Kilan”
Oleh:KEVIN GLENNICHOLAS BENEDICT SIMANJUNTAK (Kevin) (Siswa kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Di suatu desa yang tenang, diantara hijaunya pepohonan dan riuh tawa anak-a
Sebuah perpisahan
By:GOSYEN ZIO TIMOTY LAJANTO TJANDRA (Gosyen) Malam situasinya tenang penuh keheningan. Di bawah sinar rembulan yang lembut, Cristian dan Ifana berjalan beriringan di jalan k
